Tadabur Surah At-Takaatsur


 

Tafsir Surah At-Takātsur bersama Ustadzah Jamilah di Telegram Nuur Al-Basyir


Bunyi Ayat :


 Ayat 1

﴿أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ﴾

أَلْهَى berasal dari kata اللَّهْو, yaitu:

اشتغال القلب بما لا ينفعه

“Kesibukan hati terhadap sesuatu yang tidak memberikan manfaat baginya.”

Adapun اللَّعِب lebih berkaitan dengan kesibukan anggota badan.

Allah تعالى berfirman:

﴿أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ﴾

“Bermegah-megahan dalam memperbanyak sesuatu telah melalaikan kalian.”

Khithab dalam ayat ini bersifat umum, mencakup manusia secara keseluruhan.

Adapun أَلْهَاكُمُ merupakan bentuk khabar yang sekaligus mengandung teguran dan celaan (زجر). Seakan-akan Allah memberitahukan bahwa sesuatu yang akan disebutkan dalam surah ini telah membuat manusia lalai dari perkara yang lebih penting, yaitu ketaatan kepada Allah dan mempersiapkan diri untuk akhirat.

Makna التَّكَاثُر

التكاثر berasal dari كَثُرَ – يَكْثُرُ yang berarti menjadi banyak. Bentuk تَكَاثُر menunjukkan sikap saling berlomba dalam memperbanyak sesuatu.

Yang menarik, Allah tidak menyebutkan secara khusus:

“Kalian dilalaikan oleh memperbanyak harta,”

tetapi Allah mengatakan secara umum:

﴿أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ﴾

Hal ini menunjukkan bahwa التكاثر bersifat umum, yaitu berlomba-lomba memperbanyak berbagai perkara duniawi: harta, kedudukan, anak, pengikut, popularitas, dan selainnya. Harta merupakan salah satu bentuk التكاثر yang paling jelas.

Hal ini dijelaskan oleh Nabi ﷺ dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sahih Muslim. Ketika beliau ﷺ membaca Surah At-Takātsur, beliau bersabda:


«يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي مَالِي، قَالَ: وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ»


“Anak Adam berkata, ‘Hartaku, hartaku!’ Maka beliau bersabda: ‘Wahai anak Adam, bukankah yang menjadi milikmu dari hartamu hanyalah apa yang engkau makan lalu habis, apa yang engkau pakai lalu menjadi usang, atau apa yang engkau sedekahkan lalu menjadi bekal bagimu?’”

Jadi harta itu hanya sekedar apa yang digunakan, apa yang dimakan atau apa yang ia sedekahkan.

Dan terdapat pula hadits dari Anas رضي الله عنه, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لَابْتَغَى لَهُمَا ثَالِثًا، وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ»

“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah yang penuh dengan emas, niscaya ia masih akan mencari lembah yang ketiga. Tidak ada yang memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian), dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menggambarkan bagaimana jiwa manusia memiliki kecenderungan untuk terus menginginkan tambahan harta dan tidak pernah merasa puas. Ketika seseorang telah diberi harta, ia masih menginginkan lebih. Ketika keinginannya terpenuhi, ia belum tentu merasa cukup; ia kembali menginginkan sesuatu yang lebih banyak lagi.

Karena itu, yang tercela bukanlah memiliki harta atau mencari rezeki, tetapi ketika seseorang menjadikan harta sebagai tujuan untuk bermegah-megahan, berbangga-bangga, dan memperbanyak harta demi menunjukkan kelebihannya di hadapan manusia. Inilah salah satu bentuk التكاثر yang dapat melalaikan manusia.

Adapun seseorang yang mencari rezeki dan mengumpulkan harta dengan niat yang baik, misalnya untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya, menjaga kehormatan diri, serta mencegah dirinya dari meminta-minta kepada manusia.

Ini adalah salah satu bentuk التكاثر, yaitu memperbanyak harta.

Termasuk pula di dalamnya memperbanyak anak. Meskipun Rasulullah ﷺ menganjurkan kaum muslimin untuk memiliki banyak keturunan, hal tersebut tidak boleh menjadi sebab seseorang sibuk berbangga-bangga dengan banyaknya anak hingga lalai dari kewajibannya untuk mendidik dan membimbing mereka.

Namun, perlu diperhatikan bahwa memperbanyak keturunan pada asalnya merupakan perkara yang disyariatkan. Yang tercela adalah ketika seseorang menjadikan banyaknya anak sebagai sarana untuk bermegah-megahan dan membanggakan diri, sementara ia tidak memperhatikan amanah dan tanggung jawab dalam mendidik mereka.

Jadi, yang tercela bukan semata-mata memiliki banyak anak, tetapi التكاثر yang membuat seseorang lalai dari perkara yang lebih penting dan menjadikannya sibuk dengan kebanggaan terhadap apa yang dimilikinya.

Dan التكاثر juga mencakup perkara-perkara yang berkaitan dengan pakaian. Betapa banyak manusia yang berlomba-lomba dalam memperbanyak pakaian, khususnya para wanita. Seseorang tidak merasa cukup dengan pakaian yang sedikit, tetapi ingin terus menambah dan memperbanyaknya. Bahkan, lemari pakaiannya sudah penuh, kemudian ia masih berkata, “Aku tidak punya baju untuk dipakai keluar.”

Termasuk pula التكاثر dalam hal HP. Seseorang merasa bangga karena memiliki dua hp, sementara yang lain mengatakan bahwa ia memiliki tiga, lalu saling membanggakan banyaknya barang yang mereka miliki.

Bahkan, التكاثر dapat mencakup banyaknya akun dan sosial media yang dimiliki di dalam hp. Ada yang berkata, “Ambillah akun Twitter-ku, Snapchat-ku, Instagram-ku, Telegram-ku, Facebook-ku,” lalu merasa bangga karena memiliki banyak akun di berbagai platform.

Semua ini termasuk dalam makna التكاثر, apabila tujuan seseorang adalah memperbanyak dan membanggakan apa yang dimilikinya hingga melalaikannya dari perkara yang lebih penting.

Hal yang kita bahas sebelumnya adalah التكاثر dalam perkara dunia. Ada pula orang yang melakukan التكاثر dalam perkara agama—wal ‘iyadzu billah—yaitu menjadikan perkara agama sebagai sarana untuk memperbanyak sesuatu demi kepentingan dunia.

Misalnya, seseorang berkata, “Aku memiliki perpustakaan yang berisi seribu buku.” Ia terus memperbanyak buku, bukan karena ingin membaca dan mengambil manfaat darinya, tetapi sekadar ingin memperlihatkan kepada manusia bahwa ia memiliki perpustakaan yang besar. Ia bahkan berusaha mengumpulkan buku-buku yang langka agar terlihat memiliki koleksi yang banyak.

Sebagian orang juga melakukan التكاثر dalam hal karya tulis. Ia terus menulis, menulis, dan menulis, hingga memiliki banyak karya yang kemudian ia banggakan sebagai jumlah karya yang telah dihasilkannya.

Pada zaman sekarang, sebagian orang bahkan melakukan التكاثر melalui berbagai daurah. Ia mengatakan, “Aku sudah mengikuti daurah ini dan itu,” lalu ia hanya memilih daurah yang memberikan sertifikat, agar pada akhirnya ia memiliki banyak sertifikat.

Maka, التكاثر dalam perkara agama lebih besar celaannya, karena seseorang menggunakan perkara agama untuk bermegah-megahan.

Begitu pula orang yang bermegah-megahan dengan banyaknya hafalan. Ia berkata, “Aku sudah menghafal ini, aku sudah menghafal itu, aku sudah menghafal banyak hal.”

Namun, apakah ilmu itu diukur dari banyaknya hafalan?

Jawabannya: tidak.

Ilmu adalah ilmu yang memberikan manfaat kepadamu. Meskipun ilmu itu sedikit, selama ia memberikan manfaat dan diamalkan, maka itulah ilmu.

Adapun ilmu yang banyak tetapi tidak engkau amalkan dan tidak engkau ajarkan, maka ilmu tersebut justru dapat menjadi beban dan keburukan bagimu (وبالًا عليك).

Jadi, bukan banyaknya buku, karya, sertifikat, atau hafalan yang menjadi ukuran utama. Yang menjadi tolok ukur adalah seberapa jauh ilmu tersebut memberikan manfaat dan diwujudkan dalam amal.

Dan janganlah meninggalkan ilmu karena takut tidak ikhlas. Maksudnya, jangan sampai kita memahami hal tadi atau merasa takut karena setan membisikkan kepadamu, “Kamu menuntut ilmu, tetapi niatmu belum baik.” Jangan demikian.

Seorang Muslim harus tetap menuntut ilmu dan berjihad melawan hawa nafsunya, termasuk terus berusaha memperbaiki niatnya.

Manusia dalam hal ini terbagi menjadi tiga kelompok:

1. Orang yang berlebihan dalam meninggalkan ilmu. Ia tidak ingin menuntut ilmu karena sibuk dengan urusan dunianya. Orang seperti ini adalah orang yang lalai.

2. Orang yang menuntut ilmu untuk berbangga-bangga dengannya. Mereka ini sedikit.

3. Orang yang menuntut ilmu sekaligus berjihad melawan dirinya sendiri. Dan kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk golongan ini.

Seorang Mukmin senantiasa mengintrospeksi dirinya, selalu berusaha memperbaiki niatnya, dan mencela dirinya ketika melakukan kesalahan. Ia takut terhadap dosa-dosanya. Ia memandang dosa-dosanya seperti sebuah gunung yang dikhawatirkan akan menimpanya.

Inilah keadaan yang semestinya dirasakan oleh seorang Muslim: senantiasa takut terhadap dosa-dosanya, namun tetap bersemangat dalam menuntut ilmu.

Menuntut ilmu adalah ibadah yang dengannya kita mendekatkan diri kepada Allah.

Ketahuilah bahwa ilmu adalah cahaya.

Ketika kamu mendengarkan sebuah kajian, kamu akan terpengaruh dengannya, imanmu bertambah, dan kamu menjadi lebih bersemangat untuk melakukan ketaatan. Hal itu karena ilmu menerangi hatimu.

Maka, senantiasalah mengambil bagian dari cahaya tersebut, serta teruslah berjihad melawan diri sendiri dan selalu melakukan introspeksi terhadap diri kita.


Ayat 2

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ﴾

“Sampai kalian masuk ke dalam kubur.”

Maksudnya, kalian terus berada dalam kelalaian dan berlomba-lomba memperbanyak harta serta kenikmatan dunia, hingga kematian datang kepada kalian dan kalian pun meninggal. Setelah itu, kalian mengunjungi kuburan.

Ketika seorang Arab Badui mendengar firman Allah Ta‘ala:

﴿حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ﴾

“hingga kalian mengunjungi kuburan” ia berkata:

“Demi Allah, seorang yang berkunjung tidaklah menetap.”

Orang yang berkunjung (الزائر) kepadamu, ketika datang, tidak akan tinggal selamanya di tempatmu. Ia hanya tinggal selama beberapa waktu, kemudian pergi.

Demikian pula manusia ketika berada di dalam kubur. Kita hanyalah orang-orang yang mengunjungi kuburan, bukan orang yang menetap di dalamnya. Kita akan meninggalkan kubur untuk menuju kehidupan setelahnya.

Hal ini merupakan salah satu dalil yang menunjukkan adanya kebangkitan (البعث). Sebab, penyebutan kubur sebagai tempat yang dikunjungi menunjukkan bahwa manusia tidak akan menetap di dalamnya selamanya, tetapi akan dibangkitkan dan berpindah menuju kehidupan akhirat.

Oleh karena itu, tidak semestinya kita mengatakan bahwa kuburan adalah “tempat peristirahatan terakhir” (المثوى الأخير). Sebagian buku dan surat kabar menggunakan ungkapan seperti, “Ia telah pergi menuju tempat peristirahatan terakhirnya,” ketika berbicara tentang orang yang telah meninggal.

Ungkapan tersebut tidak tepat. Kuburan bukanlah tempat terakhir manusia. Kuburan hanyalah permulaan dan tahap pertama dari tahapan kehidupan akhirat.

Setelah kehidupan di alam kubur, manusia akan dibangkitkan dari kuburnya untuk menghadapi kehidupan akhirat dan mempertanggungjawabkan amal perbuatannya.


Ayat 3–4

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ۝ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ﴾

“Sekali-kali tidak! Kelak kalian akan mengetahui. Kemudian sekali-kali tidak! Kelak kalian akan mengetahui.”

Kata كَلَّا merupakan kata yang menunjukkan teguran dan pencegahan (زجر وردع). Penyebutan كَلَّا sebanyak dua kali menunjukkan adanya teguran dan pencegahan yang semakin kuat terhadap kelalaian mereka.

Adapun firman Allah:

﴿سَوْفَ تَعْلَمُونَ﴾

“Kelak kalian akan mengetahui,”

yakni kalian akan mengetahui akibat dari kelalaian dan kesibukan kalian dalam berlomba-lomba memperbanyak harta dan kenikmatan dunia.

Pengetahuan tersebut akan datang ketika mereka telah berada di alam akhirat, yaitu ketika mereka telah mengetahui hakikat dan akibat dari apa yang dahulu mereka lakukan.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa:

• ﴿كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ﴾ → kalian akan mengetahui ketika telah memasuki kubur, dan menyaksikan akibat dari apa yang dahulu kalian lakukan.

• ﴿ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ﴾ → kemudian kalian akan mengetahui buruknya akibat perbuatan tersebut pada hari kiamat.

Bagaimanapun penjelasannya, pada saat itu pengetahuan tersebut tidak lagi memberikan manfaat kepada mereka, karena mereka telah berpindah dari dārul-‘amal (دار العمل), yaitu dunia—tempat untuk beramal—menuju dārul-jazā’ (دار الجزاء), yaitu akhirat—tempat pembalasan.

Kesempatan untuk beramal telah berlalu. Maka, pengetahuan yang baru mereka sadari setelah kematian tidak lagi dapat menyelamatkan mereka.

Adapun selama di dunia, seseorang masih memiliki kesempatan untuk mengetahui kebenaran, mengambil pelajaran, memperbaiki dirinya, dan beramal dengannya. Karena itu, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan sebelum datangnya kematian.

Ayat 5 — Surah At-Takāthur

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ﴾

“Sekali-kali tidak! Sekiranya kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.”

Ilmu itu memiliki tingkatan. Sebagai contoh, ketika seseorang mengatakan kepadamu, “Fulan telah datang,” maka kamu mendapatkan pengetahuan tentang kedatangannya berdasarkan kabar yang kamu dengar. Namun, ketika kamu sendiri melihat Fulan di hadapanmu, pengetahuan tersebut menjadi lebih kuat dan mencapai tingkat keyakinan yang nyata.

Contoh lainnya, ketika seseorang mengatakan kepadamu, “Saudaramu akan datang dari negeri tertentu,” maka kamu telah mengetahui bahwa saudaramu akan datang berdasarkan berita tersebut. Akan tetapi, ketika saudaramu benar-benar masuk ke rumah dan kamu melihatnya dengan mata kepala sendiri, maka pengetahuanmu menjadi lebih kuat dan nyata.

Demikian pula keadaan manusia terhadap perkara-perkara yang Allah janjikan tentang hari kiamat. Selama di dunia, manusia mengetahui dan meyakini berita tentang hari kiamat berdasarkan wahyu yang disampaikan oleh para rasul. Namun, kelak ketika mereka melihat dengan mata kepala sendiri apa yang telah Allah janjikan, pengetahuan tersebut menjadi ‘ilmul-yaqīn (عِلْمُ الْيَقِينِ).

Jadi, ‘ilmul-yaqīn adalah pengetahuan yang telah mencapai tingkat keyakinan yang sangat kuat dan tidak lagi sekadar berdasarkan berita, tetapi akan disaksikan secara nyata.


Ayat 6-7

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ﴾

“Sungguh, kalian benar-benar akan melihat neraka Jahim.”

Ayat ini merupakan ayat yang berdiri sendiri (مستأنفة) dan tidak berkaitan secara langsung dengan ayat sebelumnya. Adapun لام pada firman Allah لَتَرَوُنَّ adalah lām al-qasam, yaitu lām yang menunjukkan sumpah. Seakan-akan maknanya:

“Demi Allah, kalian benar-benar akan melihat neraka Jahim.”

Kalian akan melihatnya dengan mata kepala sendiri. Inilah yang dimaksud dengan ‘ilmul-yaqīn, yaitu ketika apa yang sebelumnya hanya diketahui dan diyakini berdasarkan berita, kelak akan disaksikan secara nyata.

Khithāb dalam ayat ini ditujukan kepada seluruh manusia, karena pada hari kiamat neraka akan didatangkan sehingga manusia dapat melihatnya.

Sebagaimana disebutkan dalam hadis:

Rasulullah ﷺ bersabda:

«يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ، مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا»

“Pada hari itu, neraka Jahannam akan didatangkan. Ia memiliki 70.000 tali kekang, dan pada setiap satu tali kekang terdapat 70.000 malaikat yang menariknya.” (HR. Muslim)

Hal ini menunjukkan besarnya dan dahsyatnya neraka Jahim. Jika dihitung, 70.000 × 70.000 berarti sekitar 4,9 miliar malaikat yang menarik neraka.

Maka, gambaran tersebut menunjukkan betapa agung dan dahsyatnya neraka, yang kelak akan dilihat oleh seluruh manusia.


Ayat 8

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ﴾

“Kemudian, pada hari itu kalian benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan.”

Pada hari kiamat, Allah Ta’ala akan menanyakan berbagai kenikmatan yang telah diberikan kepada kita. Di antaranya adalah nikmat yang besar seperti kesehatan, ilmu, harta, makanan dan minuman, serta waktu. Semua nikmat tersebut akan ditanyakan: untuk apa kita menggunakannya dan bagaimana kita mensyukurinya.

Jābir bin ‘Abdillah رضي الله عنهما meriwayatkan:

«جَاءَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، فَأَطْعَمْنَاهُمْ رُطَبًا، وَسَقَيْنَاهُمْ مَاءً، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: هَذَا مِنَ النَّعِيمِ الَّذِي تُسْأَلُونَ عَنْهُ»

“Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, dan Umar datang kepada kami. Lalu kami menyuguhkan kepada mereka kurma ruthab dan memberi mereka minum air. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Ini termasuk kenikmatan yang akan kalian ditanya tentangnya.’”

Hadis ini menunjukkan bahwa kenikmatan yang sederhana sekalipun termasuk perkara yang akan dipertanggungjawabkan oleh seorang hamba. Maka, seorang Muslim hendaknya tidak hanya menikmati nikmat Allah, tetapi juga mensyukurinya dan menggunakannya dalam ketaatan kepada-Nya.

Dan diantara hadis yang menunjukkan bahwa semua hal ini akan dipertanggungjawabkan adalah:

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ»

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya, apa yang telah ia lakukan dengannya; tentang hartanya, dari mana ia memperolehnya dan untuk apa ia membelanjakannya; serta tentang tubuhnya, untuk apa ia gunakan dan bagaimana ia menghabiskannya.”

Hadis ini mengingatkan bahwa berbagai nikmat yang Allah berikan kepada kita bukanlah sesuatu yang akan berlalu begitu saja tanpa pertanggungjawaban.

• Umur dan waktu: untuk apa ia dihabiskan?

• Ilmu: apakah ia mengamalkannya?

• Harta: dari mana ia diperoleh dan untuk apa ia dibelanjakan?

• Tubuh: untuk apa ia digunakan dan dalam perkara apa ia dihabiskan?

Maka, nikmat-nikmat tersebut hendaknya digunakan dalam perkara yang diridai Allah, karena semuanya akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat.

Dan juga hadis:

«نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu dan lalai dalam memanfaatkannya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Mengapa Kita Akan Ditanya tentang Nikmat-Nikmat Tersebut?

Mengapa kita akan ditanya tentang nikmat-nikmat tersebut? Karena kita akan ditanya apakah kita mensyukuri nikmat-nikmat tersebut atau justru lalai dalam mensyukurinya.

Bentuk syukur yang paling pertama adalah mengakui nikmat-nikmat tersebut, kemudian mengiringinya dengan lisan melalui ucapan “Alhamdulillah”, dan dilanjutkan dengan amal saleh sebagai bentuk kesyukuran atas nikmat yang telah Allah berikan.

Adapun bentuk mensyukuri nikmat sesuai dengan jenis nikmatnya, di antaranya:

• Syukur atas nikmat waktu luang: dengan memanfaatkannya dalam perkara-perkara ketaatan.

• Syukur atas nikmat anak: dengan mendidiknya dengan baik hingga ia menjadi anak yang saleh dan bermanfaat.

• Syukur atas nikmat harta: dengan menggunakannya untuk bersedekah, membantu dakwah, dan membantu orang-orang fakir.

• Syukur atas nikmat ilmu: dengan memuji Allah atas ilmu yang telah Dia berikan dan membagikan ilmu tersebut kepada orang lain.

Sebagaimana telah kita sebutkan, di antara perkara yang dapat menambah nikmat adalah bersyukur. Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَلَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ﴾

“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian.”

Sebaliknya, di antara perkara yang dapat menghilangkan nikmat adalah tidak mensyukurinya dan melakukan kemaksiatan. Oleh karena itu, kita berusaha untuk senantiasa bersyukur atas nikmat Allah dan menjauhi perkara-perkara yang dapat menyebabkan hilangnya nikmat tersebut.

Comments

Popular posts from this blog

What I Sacrificed Today: The Shame That Made Me Feel Unworthy

Agree to Disagree

Mengenal Gut Brain, Heart Brain dan Head Brain