Agree to Disagree
Pernahkah teman-teman merasakan perasaan sebenarnya tidak sepakat, namun kondisi tidak memihak kita untuk menyatakan rasa tidak sepakat itu, mau tidak mau harus sepakat dan terpaksa menyepakatinya. Gimana sensasi perasaan yang menyeruak di hati kita? Pedih? Nyeri? Kecewa?
Perjalanan Panjang
Hari ini aku sengaja meniatkan diri untuk menulis ulang di blog ini, sebenarnya tulisan ini sudah lama aku publikasikan di channel WhatsApp 'Cerita Nikmah', kanal cerita sehari-hari dalam rangka mengurai unworthiness issue yang melandaku 2024 lalu. Tahun 2025 mulai rilis segala the unseen roots yang atas izin Allah bisa aku cerna dan peluk secara damai segala proses 'the darkness of the soul' tahun 2024 itu.
Tulisan ini aku publikasikan seusai take video dan mengunggahnya di YouTube channel aku. Video apa, Nik? Biasa, topik decluttering menyambut tahun baru dan bulan baru Muharram beberapa hari lagi. Videonya disini. Oke, itu intermezzo dulu. Mari kembali ke topik utama post blog ini.
Teman-teman yang membaca blog ini, kita semua tahu ya, usia kita terus berjalan, pelan tapi pasti, sampai akhirnya takdir-Nya yang membentuk kita jadi siapa hari ini. Namun uniknya, ada juga yang tubuhnya ikut menua, sementara mental dan emosinya seperti berhenti di masa kecil. Di situlah pentingnya kita belajar mengenali diri sendiri, jujur melihat ke dalam diri agar bisa memahami, karena tanpa pemahaman, sangat sulit melakukan perubahan. Apalagi Allah sudah mengatakan bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum jika kaum itu tidak mau dan gak ada niat untuk berubah. See?
Di dunia ini, salah satu hal yang nggak pernah bisa bohong adalah badan kita, usia kita. Sepuluh tahun lalu, organ tubuh kita sudah bekerja keras, sudah banyak energi yang dikeluarkan, energi kita banyak terpakai sana-sini tanpa disadari. Hingga tanpa sadar, ruangan yang ada dalam jiwa pun terasa penuh, sesak. Beberapa merasakan beban yang berlipat seiring waktu berjalan, beban itu terasa berat hingga seseorang bisa mengalami penuruan kapasitas. Bukan karena kapasitasnya mengecil, melainkan karena tidak melatihnya untuk lentur dan tumbuh.
Jadi, kalau hari ini kita bicara soal “kapasitas diri”, kita nggak bisa asal menambahkan jumlah kapasitas, atau asal-asalan dalam menambah ruangan kedalam badan, tanpa diawali dengan pemahaman, yaitu kesadaran terhadap ilmu itu sendiri. Dan kapasitas ini berkaitan erat dengan aktivitas berbenah, tazkiyah, hingga rewiring pola lama.
Di sinilah kenapa berbenah itu menjadi penting, healing menjadi penting. Agar kapasitas kita nggak semakin menipis tanpa kita sadari. Supaya kita bisa merawat ruangan dalam diri dengan kesadaran yang utuh dan diselami, bukan sekadar memaksanya terus terisi tanpa arti, tanpa arah dan tanpa pertumbuhan jiwa.
Kilas Balik
Masih melekat dalam ingatanku. Ada yang bilang, “it takes a village to raise a child.” Tapi di zaman sekarang, “village”-nya sering cuma jadi konsep, bukan praktik. Semua orang mungkin merasakan capek, iya. Dan semua orang pengen anak yang well-behaved, iya juga.
Tapi ada satu hal yang sering kita lupa, bahwa anak kecil itu belum punya kendali diri yang matang. Bagi kita yang dulu pernah kecil, pasti merasakannya bukan? Sekaligus reminder juga, pembeda antara tubuh kecil dan tubuh orang dewasa adalah soal responsibility, tanggung-jawabnya.
Jika anak-anak seringkali merasa tidak bertanggung jawab dan tidak memahami makna tanggung jawab. Bahkan cenderung meledak-ledak, reaktif, tidak mampu mengendalikan diri. Maka, sebagai orang dewasa, sejatinya kita bukanlah anak-anak lagi. Dan anak-anak itu bukanlah nakal. Bukan karena mereka bandel. Bukan karena mereka gak diajarin. Tapi memang secara sains, dipandang dari sisi otak, mereka belum sampai sana.
Bagian otak yang namanya Prefrontal Cortex, yang tugasnya ngatur emosi, nahan impuls, mikir sebelum bertindak, itu baru berkembang penuh di usia 20-an. Maka, anak-anak jelas belum matang di bagian tersebut. Jangankan anak-anak, bahkan manusia umur 30-an, sudah menjadi orangtua, sudah punya anak pun kadang masih ada yang impulsnya berantakan, mereka kurang mampu mengendalikan. Usia boleh tua, tapi usia mental dan emosionalnya tidak serta merta ikut tumbuh berkembang juga.
Soal pertumbuhan anak manusia, aku pernah menuliskannya di post blog ini. Aku sering banget dan suka ngobrolin hal ini sama suami. Inti obrolan kami adalah bahwa tidak semua orang tua itu, 'tua' juga usia mentalnya.
FYI, kemampuan berpikir logis pun, baru mulai kebentuk sekitar usia 7 tahun. Maka, kalau hari ini anak tantrum, impulsif, atau “gak nurut”, kadang itu bukan soal mereka melawan. Tapi mereka lagi belajar jadi manusia. Hanya saja, gak semua manusia bisa menjadi manusia. Sebagian lebih memilih otak reptil atau otak hewaninya, karena itu yang tampak familiar di jiwa mereka. Dan mungkin sebenarnya yang perlu kita bangun ulang bukan cuma anaknya, tapi juga “village”-nya. Villlage yang lebih paham, lebih sadar, lebih sabar, dan gak buru-buru menghakimi. Sebab orang yang mudah menghakimi, biasanya jauh dari kelembutan, rasa kasih, rasa empati, welas asih, bahkan peduli.
Bagi siapapun yang membaca tulisanku ini, memilih lingkungan untuk bertumbuh itu, sepenting itu. Jika kamu sedang terluka, pulihkan jiwamu, jangan malah melemparkan luka ke orang lain ya. Dan jangan playing victim. Sepanjang memelihara victim mentality, sepanjang itu pula, jiwa yang masih ada 'victim'nya alih-alih bertumbuh, untuk sekadar pulih pun, jauh panggang dari api.
Agree to Disagree
Nah, disini kita mau membahas poin inti dari postingan aku. Pentingnya memiliki ketuntasan, bukan sekadar seberapa banyak check list yang kita rasa selesai dari atas ke bawah. Ini bukan nilai rapor yang bisa diukur angka 1-100 atau dinilai A-Z.
Kita semua bertumbuh. Idealnya memang tuntas sebelum baligh, bahkan idealnya sudah matang sebelum menginjak usia pernikahan. Sebab pertumbuhan semua manusia secara fisik itu keniscayaan, namun secara psikologis, emosi, mental bahkan spiritual, walau usia besar menjulang pun, jika tidak pernah dibahas apalagi dilatih, akan kembali ke awal mula. Dan inilah yang aku gunakan saat memutuskan anak-anakku homeschooling.
Parenting is all about parent, bukan fokus ke anak, melainkan fokus kedalam diri sendiri agar lebih konkret saat deliver perasaan tuntas ini ke anak-anak. Sejak homeschooling, terutama dua tahun terakhir, semakin terasa bahwa justru aku dan suami yang malah belajar banyak sebab adanya anak-anak. As parent, as couple, Allah mengizinkan kita untuk growing together. Kuncinya memang ada pada kekompakan kita sebagai pasangan.
Tabel kriteria ini aku dapatkan dari OmGe, salah satu sumber ilmu parenting yang aku pelajari beberapa tahun silam.
Let me talk about it.
Tidak semua manusia punya resiliensi belajar untuk sanggup kecewa. Maunya ya biasanya ingin terlihat sempurna tanpa cela, tanpa dosa (padahal sadar dirinya adalah manusia, bukan malaikat). Ada beberapa manusia yang dalam jiwanya cukup kaku, kudune sempurna tanpa cacat dan kalau bisa tanpa membuat kesalahan supaya tidak dicela. Sayangnya, justru ketika kekakuan itu nyata dipegang, dirinyalah yang paling mudah dan lihai menghakimi sesama dan mencela sesamanya. Intinya, meminjam kata OmGe, "tidak memiliki ketuntasan dalam kesanggupan."
Wah, kesanggupan apakah itu?
Tentu, skill set di picture (di atas itu) berkaitan dengan kesadaran diri.
Pertama, tentu saja, sebagai manusia perlu punya kesanggupan untuk membedakan enak dan atau tidak enak. Jika bisa merasakan perasaan, apalagi memahami roots dibalik rasa enak dan gak enak, akan lebih mudah untuk memproses dan melatih kesanggupan berikutnya.
Yang kedua, sanggup kecewa.
Selanjutnya. Sanggup percaya, ini modal penting dari semua hal sih. Gak cuma soal parenting, bahkan healing pun bermula dan bisa diproses dari self honesty dulu. Self trust dulu.
Jika sudah. Lanjut ke sanggup dipercaya, ini modal besar kita. Sebagai manusia yang beragama islam, kita sudah jelas punya suri tauladan, Rasulullah Al Amin. See? 'Al-Amin'.
Jika sudah meng-embody sanggup percaya, nanti akan lebuh mudah untuk bisa saling percaya. Pada state sanggup saling percaya, modal untuk hidup berelasi, hidup berdua secara kompak. Karena anak-anak kita kelak pasti akan tumbuh dewasa, mereka menikah. Skill saling percaya di zaman ini, sungguh mahal sekali jika tidak dikenalkan, tidak dirasakan, dilatih sejak dini.
1. Sanggup Membedakan Enak VS Tidak Enak
First and foremost. Membedakan enak vs nggak enak ini ada kaitannya dengan authenticity. Sebagai anak utamanya, sudah ada bekal dan bawaan ini secara sadar. Setiap inidividu bisa merasakan apakah ini nyaman atau nggak nyaman, ini baik atau nggak baik buat dirinya.
Apa ujung dari proses ini? ujungnya itu nanti dari memproses membedakan serta memilih mana yang enak vs gak enak adalah muncul self awareness alias kesadaran diri.
2. Sanggup Kecewa
Gak semua orang memiliki kemampuan meregulasi emosi dan kesanggupan merasakan rasa kecewa, apalagi anak-anak. Maka jangan heran jika kita menyaksikan orang dewasa yang kalau marah bisa merusak, kalimatnya buruk sekali, amarahnya tidak terkendali, sebab di masa anak-anak mengalami diskoneksi ini, sehingga tidak memiliki skillset sanggup kecewa ini.
Maksudnya gimana? Apakah kita harus mengabaikan perasaan kecewa kita? Waw, tentu saja tidak. Justru bahaya kalau tidak mau merasakan perasaan, karena ada kaitannya dengan nerve system di badan.
Perasaan yang tidak dicerna, tidak dipahami atau tidak dirilis akan nyangkut ke badan sendiri. Modelnya banyak sekali. Gak kita bahas disini ya, panjang soalnya. Intinya : merasakan perasaan itu skillset wajib harian seorang manusia.
Lantas, gimana sanggup kecewa itu?
Sanggup kecewa itu ya, intinya kita bisa merasakan rasa kecewa secara sehat. Kita tetap bisa merasakan kecewa tapi TANPA hancur. Bahkan tanpa menyerang balik tanpa melakukan kezaliman yang lebih besar. Sanggup kecewa ini bukanlah hal pasif yang kita pasrah aja tanpa merasakan atau tanpa ikhtiar, nerimo opo onone (terima apa adanya), big big noo.
3. Sanggup Percaya
Seseorang yang sulit percaya pada orang lain, itu sebenarnya perlu memulai berlatih dari mempercayai diri sendiri terlebih dahulu. Maka, kemudian ia bisa belajar untuk percaya pada orang tua, percaya proses, percaya bahwa dunia tidak selalu mengancam. Puncaknya, percaya bahwa kehidupannya itu sudah ada yang mengatur, yaitu Robb semesta 'alam. Nah, inilah pondasi safety, rasa aman. Ujungnya nanti kalau kita belajar soal penyapihan secara holistik, ujungnya akan sampai di level hanya memiliki rasa percaya pada Allah saja. Gak apa-apa kalau manusia berbohong, membuat makar, berdusta, menzalimi, mengghibahi, membuat fitnah, it's okay. Sebab, wakafaa billaahi syahiida. Apa-apa itu percayanya yaa sama Allah. Ini sumber ketenangan hidup.
4. Sanggup Dipercaya
Sanggup dipercaya itu adalah intinya menjadi orang yang bisa diandalkan, ia bisa pegang janjinya, jujur, serta memiliki self responsibility, bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang dia pilih. Paham konsekuensi. Karena sumber dari belajar dari kehidupan itu ya hanya disini ini, memahami konsekuensi.
Ujung dari sanggup dipercaya nantinya masuk ke ranah membangun integritas diri. Kalau mau lebih detail, ini ada dalam siroh ya. Kita bisa menyaksikan Rasulullah itu punya integritas tinggi bahkan di mata musuh beliau. Yaitu sebagai Al Amin. Yang dapat dipercaya. Yuk deh, belajar siroh, Alhamdulillah Allah mengizinkanku belajar di Akademi Siroh, Akademi Al-Fatih tahun 2023 lalu dan Akademi Qur'an setahun sebelumnya (2022), sungguh membuka jiwa kita untuk menyelami agama Islam secara sadar dan utuh. Yang penasaran, ingin daftar, bisa ke tautan https://akademialfatih.org/
5. Sanggup Saling Percaya
Saling percaya. Ini terkait relasi, bubungan dua arah, bukan cuma dia percaya atau bisa dipercaya, tapi juga bisa menjaga kepercayaan orang lain. Sifatnya 'saling' bukan sepihak. Inilah yang menentukan bagaimana cara kita bersosial, cara kita bekerja, cara menyelesaikan konflik secara bijak, hingga dalam kehidupan berumahtangga serta bermasyarakat. Sikap 'saling' ini pastinya melibatkan healthy boundaries (panjang kali lebar kalau membedah batasan sehat ini guysss), dan ujung dari sanggup saling percaya adalah relasi sehat.
6. Sanggup Berjuang
Another level, sanggup berjuang artinya tidak mudah menyerah, tetap mencoba walau sulit, tidak langsung lari dari ketidaknyamanan. Kaitannya dengan daya tahan hidup (resilience). Resiliensi ini cukup kompleks ya teman-teman karena melibatkan banyak faktor. Kapan-kapan aja dibahas detailnya.
7. Sanggup Mengalami Akibat
Sanggup mengalami akibat. Paham terhadap setiap konsekuensi sikap, tutur kata, pemikiran, pola dan pilihan-pilihan kecil dalam kesehariannya. Inilah ciri khas manusia yang utuh, dewasa dan sehat. Yaitu : Mau menerima konsekuensi. Tidak melimpahkan kesalahan dan konsekuensinya kepada orang lain.
Apa cirinya manusia ini? ya seperti Bapak kita, Nabi Adam 'alaihissalaam. Jika merasa salah, mau terima akibat dan tidak menyalahkan orang lain. Nabi Adam bahkan tidak mencela dan menghina Iblis, No. Apalagi menjadikan orang lain sebagai kambing hitam, Nabi Adam tidak menyalahkan Bunda Hawwa. No. Padahal riwayatnya ada yang mengatakan Hawwa turut andil, namun sebagai qawwam, nabi Adam mencontohkan bahwa setiap kelalaian, setiap kesalahan yang ada pada rumah tangganya, murni andil darinya dan ia mau bertanggung jawab. Itulah Nabi Adam.
Berbeda dengan Iblis, ia dengan mudah membandingkan, menghakimi, penuh emosional yang bahkan merusakkan seluruh jiwa (generalisasi) sampai-sampai ia bersumpah akan terus menyesatkan anak-anak Nabi Adam hingga kiamat.
Maka, manusia yang dewasa, jika salah, mau minta maaf. Mau menanggung segala konsekuensi, belajar ekstra dari setiap kesalahan yang dilakukan, tidak sombong, tidak takabur. Bukan malah bikin drama, bikin masalah baru, dendam, membesar-besarkan masalah, merasa si paling korban 100% -playing victim (padahal aslinya pelaku) dst.
Kalau kalian pernah merasakan menemukan orang seperti ini. Bisa jadi memang manusia seperti ini tidak memiliki kesanggupan ini. Sanggup menerima konsekuensi. Bahkan kalau kata guruku, "kasihanilah orang seperti itu ya Nikmah, terlalu dalam luka di masa lalunya namun tidak sadar, tidak mau mengambil tanggungjawab, as above so below, pasti apa yang didalam, pasti keluar ke permukaan. Tidak ada air susu, keluar dari teko berubah menjadi air comberan."
8. Sanggup Mencoba Solusi
Jika sudah melewati fase dark night, dengan memiliki kesanggupan mengalami akibat, maka selanjutnya akan belajar untuk mencoba. Sanggup mencoba solusi, “Kalau kondisinya begini, aku bisa ngapain ya?”
Sebagai muslim, saranku, libatkan Allah, dalam memilih apapun itu. Misalnya memilih pakaian, memilih pasangan (apalagi ini), hingga pertemanan. Sanggup mencoba dan memilih solusi-solusi, ini awal dari problem solving.
9. Sanggup Membuat Solusi
Ketika sudah mencoba, kita akan belajar untuk membuat solusi yang tepat guna, cocok, personalized untuk diri kita (dan keluarga). Tentu melalui kesanggupan-kesanggupan sebelumnya, di state ini bukan cuma coba-coba aja tapi bisa MERANCANG cara keluarnya. Bahkan sudah bisa berpikir menyeluruh. Gak hanya melihat dari satu sudut pandang. Bahkan mengumpulkan data yang kokoh, mempertimbangkan secara psikologis, dampak hingga jauh memikirkan jangka panjang (kalau muslim, sampai ke akhirat). Di level ini, kita sudah tidak lagi membuat keputusan-keputusan receh, apalagi cuma berdasarkan ego, hawa nafsu atau perasaan. No.
The point is : Ini tanda kemandirian berpikir.
10. Sanggup Evaluasi
Tidak semua orang sanggup evaluasi apalagi di-evaluasi. Biasanya sukanya mengevaluasi orang lain, itupun sukanya terkadang efek ngasih makan ego, tanpa ilmu dan data yang kokoh. Dan jika kita sudah mampu look-in, memproses inner-work kita, biasanya sejenis muhasabah, kita akan mudah sekali menanyakan ke dalam diri kita, “tadi kayak ada yang kurang tepat, di bagian mana ya?”, “next harus gimana?”
11. Sanggup Membuat Strategi Menghadapi Situasi Sulit
Cirinya biasanya : Tidak reaktif. Gak gampang emosional, gak gampang meledak, marah-marah. cenderung tenang, walaupun sangat sulit situasinya. Tidak panikan. Waw, kok bisa? Ya ini panjang kali lebar, ada kaitannya dengan neurosystem kita. Pas aku ikut kelas yang khusus membahas sistem syaraf manusia, rasanya gak habis-habis memuji Allah, Masya Allah Tabarakallah rasanya sungguh se-ajaib itu tubuh manusia. Jadi melow sekaligus haru kalau mendalami kembali ilmu soal ini, mudah-mudahan Allah berikan taufik untuk kita semua.
Bahkan kalau kita cermati, menghadapi situasi yang sulit itu bagian dari pengokohan resiliensi. Dan ini tanda mulai matang secara mental. Normalnya usia 24 tahun (kalau berjalan dengan smooth), sudah di level ini. Namun, hari ini kita dapati usia 30-an, 40-an, bahkan 70-an ada yang masih tidak memiliki kesanggupan ini, artinya apa? Kunci gerbang di awal tadi, belum diselami. Self awareness.
12. Sanggup Membuat Keputusan Rasional
The last, but not least. Ini dia puncaknya. Bukan hanya tidak reaktif, tidak dikendalikan oleh emosinya, melainkan juga memiliki wisdom. Wisdom adalah pertemuan antara ilmu dan pengalaman. Ini akan sangat kuat erat dan membuat seorang manusia lebih bijak jiwanya, karena mempertimbangkan akibat dari setiap sisi keputusan hidupnya. Tidak lagi mode auto-pilot, yang survival, fight or flight (or freeze and fawn).
Ending dari membuat keputusan rasional adalah tidak melakukan kezaliman, tidak berat sebelah, dan membuat segala sesuatunya lebih harmonis, bukan malah memperburuk kondisi.
Rumusnya biasanya mempertimbangkan :
1. fakta (realita), bukan hasil prasangka, tapi jelas tegak bukti secara utuh (bukan dipotong-potong, modal screenshoot atau manipulasi sepihak).
2. perasaan (emosi), tentu berkaitan dengan emotional competence, tidak dikendalikan oleh emosi sesaat, apalagi emosi yang sesat.
3. nilai (apa yang penting), tentu kalau ada problem, kita perlu merujuk ke ahli ilmu, bukan orang yang memiliki kecondongan pada diri kita (tidak netral).
4. dampak (jangka pendek & panjang), tentu saja, jangka panjangnya adalah alam kubur, alam akhirat.
Intinya bukan hanya logika, bukan hanya rasa, melainkan logika dan rasa yang berkesadaran.


Comments
Post a Comment