What I Sacrificed Today: The Shame That Made Me Feel Unworthy

 Hai, Everyone. Selamat hari Raya Idul Adha semua. Aku ada utang tulisan dari bulan April lalu ya, sebenarnya ini janji aku tulis dan publikasikan di channel Whatsapp aku 'Cerita Nikmah'. Namun, karena terlalu panjang, aku tuliskan disini saja. Supaya lebih ringkas saat dibagikan.

Bertepatan dengan hari-hari mulia di bulan istimewa, Dzulhijjah, momentum ini tak akan aku lewatkan. Aku berharap mudah-mudahan Allah berikan keridhoan di setiap goresan kata yang aku ketikkan. Dan bagi siapapun yang membaca tulisanku ini, aku ucapin makasih banyak karena membahas soal unworthiness ini memang gak bisa sendirian.


Kalau teman-teman pernah merasakan perasaan unworthy, itu bukan sekadar merasa tidak berharga atau merasa rendah. Lebih dari itu, di layer mental, unworthy itu membuat diri kita mempertanyakan ulang soal eksistensi diri di dunia. Ini kabar baiknya jika kita sambungkan ke layer spiritual, akan luar biasa dampak ke kehidupan kita. 

And again, secara holistik, kalau kita lihat spektrumnya, layer mental and spiritual ini kan 'berdekatan' ya, itulah kenapa istilahnya ada yang mengatakan bahwa jika kamu mengenal dirimu, maka kamu akan lebih mudah mengenal Tuhanmu. Ini bukan klise teman-teman, kita coba belajar untuk memahami, mengenali cara kerja tubuh kita aja deh, itu akan membawa kita kepada kesimpulan : ini tidak mungkin jika tidak ada yang menciptakan sistem secanggih ini didalam badan. Endingnya, balik ke ketauhidan. Makin percaya bahwa Allah-lah Robb yang menciptakan kita.

Di post blog kali ini, aku akan lebih fokus menceritakan soal proses gimana aku melepaskan akar dari unworthiness issue itu sepanjang beberapa tahun ini. Secara sadar, aku memprosesnya dari 2024. Dan proses ini terus berjalan, sepanjang hayat bahkan. Kenapa? 

Karena kita gak pernah tahu di state mana kita pulih, di bagian mana kita belum memproses. Tentu, sepanjang proses ini, yang utama dan paling penting adalah senantiasa meminta pertolongan dan petunjuk pada Allah. Terus, ilmunya dari mana? 

Alhamdulillah Allah gerakkan aku di pertengahan tahun 2024 lalu, mengikuti workshop full day bersama Wholistic Goodness. Boleh dikatakan, proses healing aku yang super gently itu dipandu oleh Mba Vidya di setiap sesi yang aku ikuti. Aku senantiasa mendoakan beliau mudah-mudahan Allah beri panjang usia, kebaikan dunia akhirat, karena melalui wasilah beliau, proses healing aku berjalan dengan sangat lembut, penuh kasih dan lebih mengenali diri atas izin Allah. 

Tahun 2024 (bertepatan dengan ujian mental) sungguh merupakan tahun yang tak akan pernah aku lupakan. Walaupun aku sudah mulai memproses belajar berbagai ilmu sejak SMA (terkait ilmu kejiwaan), kemudian belajar serius soal ilmu kesehatan holistik di tahun 2022 (pasca melahirkan anak kedua). Balik ke 2024. Kala itu, pertama kalinya Compassionate Healing series aku pelajari secara teliti dan lebih jernih, tahun berikutnya juga (2025) terjawab semau soal 'Self Knowledge series" and The Dark Night of the soul, dan 2026 kini, aku belajar soal somatic dan nerve system healing yang mana semua itu saling terkait. 

Oke, let me tell you this.

Unworthiness itu apa?

Banyak dari kita mungkin merasa 'aku ini ngelakuin ini untuk apa sih?', beneran untuk Allah? atau cuma ngasih makan ego diri yang sedang lapar? 

Kenapa mempertanyakan diri? karena batas antara ikhlas dan tidak, itu tipis sekali. Bahkan gak disadari.

Pernah gak teman-teman merasakan hal yang seperti aku rasakan itu? Merasa berada di ruang di mana aku merasa tidak cukup, tidak aman, dan kehilangan diriku sendiri. Sejak kecil, bahkan setelah menikah dan punya anak pun, aku belum pernah merasakan perasaan yang se-dalam itu, merasa apapun yang aku lakukan itu sia-sia, bahkan satu hal yang paling aku sesali adalah kelahiran diriku sendiri. Kok bisa? Karena hal itu terkait dengan peristiwa yang amat sangat traumatis, ketika Allah berikan suatu ujian kesadaran, aku tersentak, hingga tercetus, 'Oh, jangan-jangan, ini bukan aku'. Dari sana, aku mencoba mencari, meminta dan kemudian Allah gerakkan aku untuk memproses perasaan itu, menelusuri perasaan itu, satu per satu.

Aku pernah berada dalam dinamika relasi yang membuat hatiku mengecil. Setiap hari isinya hanyalah tangisan, dalam kepalaku penuh kabut pekat, seolah mempertanyakan diri sendiri, merasa tidak berharga sangat jelas sekali, merasakan perasaan dikhianati oleh sesama relasi perempuan, terasa tajam sekali. Hampir-hampir aku tidak merasa pantas untuk melihat wajahku di cermin, itulah kenapa sekitar 8 bulan lamanya aku menutup wajahku dengan niqob. 

Mungkin sebagian teman-teman ada yang mempertanyakan soal itu, tahun 2024 itu, kok Nikmah mendadak berniqob ya (saat itu). Bagi yang gak terlalu mengenalku, dianggapnya aku sedang hijrah atau memiliki pemahaman agama lebih baik, padahal itu semua manifestasi dari unworthy. Ya, merasa tidak berharga, tidak pantas hidup bahkan. Walau manifestasinya adalah aku mencoba Denial dengan meminta penguatan ke teman yang berniqob, ambil sunnahnya. Adapun kalau dilanjut, itu hanya soal kekuatan dari Allah saja. Walau akhirnya aku merasa tidak layak berniqob juga saat memahami si Shame ini yang ternyata menghantui hari-hari diri ini.

Wah, Nik... Kok bisa sekejam itu perasaannya? kok bisa sedalam itu rasanya? Kok bisa se-menusuk itu di jiwa? Well, itulah unworthiness, teman-teman. Bahkan pasanganku juga ter-resonansi, kami tidak sampai bunuh diri aja, itu sudah karunia dari Allah yang sangat besar sekali. Kenapa? Karena unworthiness yang paling puncak, menyebabkan seseorang helpness, hopeless, dan bunuh diri itu gak ada yang tiba-tiba ada. Semua termanifestasi di badan kita. Jadi, kalau ada yang kaget sama seseorang yang pintar, kaya raya, rupawan, seperti artis atau aktor korea misalnya namun ujungnya bundir, itu gak terjadi secara tiba-tiba. Itu semua ada akarnya, dan akarnya adalah shame. Shame based trauma.

Unworthiness itu 'produk' atau hasil dari shame.

Shame itu membuat kita mempertanyakan diri kita, personhood kita.

Shame itu bukan malu, bukan itu. Kalau malu itu kan, shy. Shame terjadi di layer emosi. Sedangkan si unworthiness di layer mental.

Shame itu perasaan yang tidak pernah muncul, ia tersembunyi sekali didalam layer emosi kita. Saking sembunyinya, kita kalau ketemu orang yang baiiiiiiiik banget, suka bantu, nolong bahkan mengabaikan dirinya sendiri, bisa jadi itu shame. Karena jika gak disadari, shame inilah yang bisa menggerus keikhlasan dan resource kita sebagai hamba Allah. Oia, kalau membahas soal emosi, sama seperti kita membahas manusia ya, mari bersikap adil. Maksudnya gimana Nik? 

Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya secara tepat dan benar. Tidak berat sebelah. Kalau ihsan, itu diatas adil, jauuuh sekali. Hari ini, jangankan bicara tentang ihsan, ngobrolin adil aja deh. Struggling sekali teman-teman. Kalau ihsan itu kan jika kita disakiti, bukan sekadar tidak menyakiti balik, atau memaafkan, bukan itu. Ihsan itu bahkan saat kita dizalimi, disakiti, kita diberikan dan diperlakukan tidak adil, kita meresponnya itu dengan kemauan diri dengan membalasnya berupa kebaikan yang tinggi. Contohnya Nabi Yusuf, Rasulullah, dan para manusia yang jiwanya hanya untuk Allah. Maka, dalam hal ini, gak akan tersinggung, sakit, kalau disenggol soal personal diri, namun jika yang disenggol itu adalah agama ini, tentu konteksnya lain lagi. Nah, Itu ihsan. Kalau adil ini gimana?

Karena kita lagi membahas soal emosi, adil pada emosi itu kita harus mampu memahami bahwa : ada emosi sehat dan ada emosi tidak sehat. Setiap emosi memiliki tujuan. Allah menciptakan emosi itu untuk menjadikan kita manusia yang berakal, untuk merasakan perasaan, itu melalui emosi. Maka, adil terhadap emosi itu dengan bereaksi secara tepat, tidak berlebihan dan bukan soal mengendalikan atau mengontrol ya namun lebih kepada gimana kita mampu memahami tujuan emosi itu hadir. Kemudian kita mau memprosesnya secara internal (jadi gak yang meledak, senggol bacok, bikin sakit hati orang lain- kalau sampai seperti ini, artinya kita sedang dikontrol oleh emosi, dikendalikan oleh emosi).

Setiap emosi, ada tujuannya. Misalnya, marah, ada rasa marah karena untuk menegakkan boundaries. Mbak Vid, guru healing aku selalu bilang, ada healthy boundaries, ada unhealthy boundaries. Ada healthy anger, ada unhealthy anger. Allah itu Maha Adil lho teman-teman, Allah enggak menghakimi kita dalam soal merasakan perasaan, namun yang Allah nilai dan Allah perhatikan adalah REAKSI saat atau setelah kita merasakan perasaan itu. Kebayang gak, kalau kita justru dikontrol oleh emosi kita, maka kehidupan kita pasti kacau balau. Kenapa coba?

Sebab, kita sendirilah yang tidak adil, kita yang zalim. Laa ilaaha illaaa anta, subhanaka innii kuntu minadz dzolimin. Allah itu sesuai dengan tindak-tanduk kita, prasangka kita, kalau kita tidak mengilmui, bagaimana mungkin kita bisa berlaku dan bersikap yang tepat? Bisa-bisa kita akan terus 'di-remidi' karena kitanya maunya remidi terus. Sadar gak sadar, as above so below, teman-teman.

Orang lain itu adalah mirror, cermin. Kalau kita melihat mereka men-trigger kita, berarti mereka itu memantulkan kepada kita bagian-bagian diri kita yang perlu kita pahami lebih baik. Jadi, sebenarnya gak ada ceritanya orang lain itu tiba-tiba hadir, tapi bisa jadi karena memang Allah beri kuasa untuknya agar kita mampu memahami perasaan kita. Nah, tugas kita adalah bersikap yang adil (dan kalau mampu, ihsan). Perkara orang lain berbuat jahat, itu urusan dia dan pilihannya, kelak, kita dihisab masing-masing.

Disini aku ingin mengajak teman-teman semua untuk lebih berkasih sayang pada diri sendiri. Ketika kita lembut pada diri, maka kita akan lebih mampu menyalurkan kelembutan itu ke orang-orang yang kita sayangi. Jadi, bukan 'lembut' yang 'memberi makan ego diri yang lapar'. Kayak gimana Nik?

Gini, kita kan pernah ya merasakan bahwa berbuat baik itu karena Allah. Yakin? Berbuat baik untuk orang tua misal, yakin karena Allah? atau jangan-jangan karena dulu kita karena kurang mendapatkan cinta, kurang merasa dicintai, kita masing berusaha keras hingga hari ini untuk 'dicintai' oleh ortu? itu kemungkinan jadi salah satu unmet needs sejak kecil. Jadi kayak masih pengen dapat feedback cinta dari ibu dan ayah. Atau ke pasangan, atau teman, atau anak, atau siapapun itu. See?

Akan sangat beda jika kita melakukan sesuatu karena rootsnya memang resourcenya Allah saja. Itulah kenapa dalam islam, soal niat itu jadi perkara yang fundamental. Karena gak gampang, sungguh, si shame itu bisa nyelip aluuuuuuus banget lho kedalam dada kita.

Pun saat merasa dihakimi atau menghakimi, disakiti atau menyakiti. When we judge or when we are being judged. 

Waktu kita nge-judge orang sebenarnya ya itu kita bicara tentang diri kita sendiri. Waktu kita dijudge orang lain, dia sedang bicara tentang dirinya sendiri. Karena, setiap kali orang berbicara itu enggak pernah tentang orang lain. Kita itu selalu ngomong tentang diri kita sendiri sebenarnya, pun orang lain juga demikian. 

Dari sana, aku mulai memahami bahwa setiap orang membawa lukanya masing-masing. Termasuk mereka yang pernah melukai aku. Maka, ketika aku belajar dan mencoba berusaha memahaminya, aku jadi paham dan tahu bagaimana cara meresponnya. 

Dan ketika Allah berikan padaku kapasitas untuk merespon secara baik, tepat dan sehat, maka emosi yang kurang baik itu maka dinamikanya akan lepas dari mengontrol jiwaku. Maka, aku enggak lagi dikontrol oleh emosi (tidak sehat)ku lagi, melainkan aku mencoba untuk memahami emosi itu secara utuh. 

Dan kemudian aku belajar bahwa tidak semua kedekatan mampu menjaga kepercayaan. Maka, aku perlu menaruh dan meletakkan kepercayaan itu hanya pada Dzat yang Maha Menepati Janji-Nya, Allah Robb kita semua. Latihan skillset soal niat, intentional ini, seumur hidup ya, sepanjang napas masih di badan.

Gimana caraku Letting Go Unworthiness?

Ada gambar kue anniversaryku 2026 ini, ya, pernikahan inilah yang menjadi hadiah bagi diri kecilku. Suami termasuk lelaki yang Allah hadirkan untuk memproses semua itu, pun sebaliknya, aku hadir untuk menjadi wasilah juga atas lukanya. Apa relasinya dengan cara letting go unworthiness ini? 

Tahun 2014 kami menikah, kami baru mengenal satu sama lain sekitar satu tahunan lamanya. Kalau ditelusurui lebih jauh, ternyata atas pernikahan itu juga, dengan kesadaran yang berbeda, kini aku merasa bahwa Allah mempertemukanku dan mencondongkanku untuk memilihnya itu bukanlah hal yang random semata atau sekadar perasaan cinta. Bukan. Ini semua karena kasih sayang Allah yang jauh lebih dalam melihatku secara utuh bahwa aku memang butuh lelaki ini sebagai suami. Bukan soal hafalan Qur'an, postur, atau nasabnya, melainkan memang luka-luka di masa kecil, terbuka semua tatkala belajar dan berani memprosesnya bersama-sama.

Tidak ada manusia di muka bumi ini yang gak punya luka. Bahkan kalau kita belajar, Alhamdulillah tahun 2022 aku kuliah di Akademi Qur'an dan 2023 di akademi Siroh Al-Fatih yang mana dari sana aku jadi belajar banyak soal luka yang dikisahkan oleh Al-Qur'an tentang bagaimana para Nabi dan Rasul, manusia yang kita teladani sepanjang zaman, memahami luka, merespon luka sehingga Allah abadikan kisah mereka dalam kitab yang mulia. Di tahun 2023 itu juga suami memberikan modal untukku belajar di kelas-kelas yang harganya tidak murah, inilah mahalnya ilmu, bukan nominal dan waktu, melainkan tatkala Allah uji, semua teori itu bisa hadir atau blank sama sekali. Kayak waktu kita ujian sekolah aja, bedanya ini ujian kehidupan.

Balik ke shame.

Ketika : rooted in shame, biasanya itu akan jadi sesuatu yang transaksional. 

Kebayang gak jika kita dikendalikan oleh shame. Saat berbenah harian, saat mencuci, saat membersamai anak, kita masih pengen minta pujian suami, minta imbal balik dari suami, seolah-olah take and give itu harus sesama manusia. Padahal, kalau dipikir-pikir dan dirasakan, bukankah Allah yang kelak akan mengganjar semua? Ini bukan soal spiritual by passing ya teman-teman, namun dalam proses healing itu ya memang begitu. Allah lah yang memberikan kesembuhan, bukan manusia. Tugas kita ini cuma ikhtiar semampu kita, dan itupun juga atas izin Allah semua ya kan. 

Maka, saat aku merasakan perasaan itu, tahun 2024 aku belajar banget kok bisa semua teori buyar ya. Karena memang bisa jadi Allah hanya kasih petunjuk ilmu (ini jadi ingat kelas tadabur Al-Fatihah ya, soal hidayah), dan belum tentu dikasih petunjuk taufiq. Kapan petunjuk taufiq ini dikasih? Ah panjang sekali, intinya adalah sepanjang kita gak mau memproses shame dalam diri, yang ada akan terus merasa bertransaksi. Minta timbal balik.

Misalnya, kalau anak gak nurut, sesak jiwa kita. Alih-alih kita menuntut anak nurut, bukankah kita maish punya kewajiban banyak untuk menunaikan hak anak? bukankah hak anak itu penting kita tunaikan? Pun dengan pasangan, dan dengan diri sendiri. Perasaan unworthy tadi itu kan di layer mental, relasi diri kita dengan diri sendiri. Relasi ini gak bakal beres kalau kita gak memproses emosional layer kita, shame ini ada di spektrum emosi soalnyaaa, so, mau kita kayak gimanapun (kecuali atas karunia Allah), hafalan banyak, bahkan mungkin udah jadi ustadz or ustadzah namun kita gak mau memproses shame ini, bisa jadi kita akan menjadi manusia yang mudah shaming (ke diri, anak, pasangan) ke orang lain.

Gak mudah ya teman-teman, kalau ada yang bilang enak yaa jadi ibu rumah tangga, ya memang enak, tapi kerjaannya berat. Sebab kerja-kerja inner work gini tuh jadi pondasi, esensial. Karena ketenangan seorang istri, menjadi sakinahnya sebuah institusi bernama keluarga ini. Maka, saat aku memproses ini semua, satu hal yang aku rutin kerjakan adalah memproses perasaan setiap hari. Sampai aku mencoba mencari hunian, meminta ke Allah agar Allah gerakkan suami untuk bisa memprovide aku agar lebih mampu berdaya jika berada didalam rumah. Bukan berdaya secara materi ya ini, melainkan secara jiwa, secara hati. 

Maka, aku tak pernah berhenti untuk ikut kelas, ikut workshop, bahkan hadiah terbesar di ujung 2025 adalah Allah hadiahkan aku circle baik, teman-teman di forum Baitush Shahabiyyah. Allah itu sungguh Dermawan sekali. Ini di layer mental ya, makanannya : belajar.

Di layer fisik, aku mulai mencoba makan makanan yang sesuai dengan konstituen badan, juga mulai mengurangi gluten. Bukan gak makan sama sekali, tapi sedikit demi sedikit bertahap mengurangi. Perjalanan panjang dari 2022 lalu. Karena gluten bikin limpaku melemah. Di layer energi, perbanyak grounding dan sky/sun/moon gazing. Di layer emosi, selain aroma alam, parfum alaminya jnsq yang merilis emosi, aku juga journaling dan mempelajari makna emosi serta mencoba berdialog dengan anak-anak soal ini (nurturing my inner child with my children) as always. Kalau ingin detail memahami Shame yang cukup mendalam, apa tujuannya, apa jenisnya dan meregulasinya, teman-teman bisa beli rekaman kelas yang aku ikuti ya di kelas Wholistic Goodness. DM aja ke wholimin, judulnya Un-Shaming Unworthiness.

The last, di layer spiritual, aku berjuang gak ninggalin dzikir pagi petang. Karena ini benteng terkuatnya. Sambil ditadaburi ya. Masya Allah, Allah itu baik banget. 

What I Sacrificed Today

Bertepatan dengan hari tasyrik 11 Dzulhijjah 1447 H, aku mengikrarkan diriku melepas semua perasaan shame yang membuatku unworthy ini. Mohon doakan aku ya teman-teman, bagi yang membaca ini, mudah-mudahan aku bisa bangkit lagi, berkarya lagi, setelah mandeg  nulis buku di 2023 lalu. Bagiku, menulis dan membaca itu sepaket duo teman yang tak pernah aku tinggalkan sejak kecil. Karena dulu, saat ortuku bercerai, aku tak punya saudara, buku-bukulah yang menemaniku setiap harinya. Menulis, menjurnal, membaca, menghabiskan waktu dengan merenung, sebuah keasyikan yang aku tak mampu bagaimana cara mendeskripsikannya.

Dan kini, aku belajar bahwa tidak semua kedekatan mampu menjaga kepercayaan. Dulu aku percaya bahwa kalau aku bisa dekat dengan ortu, mereka bisa mempercayaiku, menyayangiku, bahkan mengasihiku. Namun ternyata cara mereka menyayangiku sesuai dengan kapasitas mereka yang mana itu menjadi busyro bagiku di hari ini. Gak akan ada ceritanya podcast @suara.innerchild hadir jika aku gak merasakan semua perasaan pahit yang unresolved di masa kecilku. Karena aku yakin, bahwa hampir semua akar masalah apapun, dimulai dari bagaimana kita ketika kita kecil dulu.

Maka, setelah kini dewasa, aku memilih untuk mendewasakan juga layer emosi dan mentalku, dan mudah-mudahan Allah kirimkan kebaikan dan keteguhan yang utuh di layer spiritualku. Maka, aku hanya perlu menaruh dan meletakkan kepercayaan itu pada Dzat yang Maha Menepati Janji-Nya, Allah Robbku yang Rahmaaan dan RahiimNya tiada tara.

Hadza min fahdli Robbi.



Comments

Popular posts from this blog

Mukaddimah Kurikulum Pendidikan Anak dalam Keluarga Muslim sesuai Tahapan Usia bersama Ustadz Herfi Ghulam Faizi

Lelaki dan Perempuan Berumah Tangga : Dikit-Dikit Minta Cerai?

Mengenal Gut Brain, Heart Brain dan Head Brain