Refleksi 12 Tahun Pernikahan (2014 to 2026)

 



Twelve Years of Becoming

Dua belas tahun pernikahan, dan kami masih belajar tentang cinta, diri, dan Allah.

Dua belas tahun.

Ketika menengok ke belakang, rasanya ada begitu banyak versi diriku yang pernah hidup di dalam perjalanan ini. Ada aku yang penuh harapan, aku yang sedang belajar menjadi istri, aku yang kemudian menjadi ibu, aku yang berusaha memahami banyak hal, juga aku yang pernah begitu lelah hingga perlu berhenti sejenak untuk mendengarkan diri sendiri.

Pernikahan ternyata bukan hanya tentang mengenal seseorang yang kita pilih untuk hidup bersama. Ia juga menjadi perjalanan panjang untuk mengenali diri sendiri (literally ini poinny) bagian-bagian yang sebelumnya tidak kita ketahui, kebutuhan yang tidak mampu kita ucapkan, ketakutan yang diam-diam mengendalikan respons kita, hingga luka lama yang ternyata ikut hadir di dalam hubungan yang baru, hubungan yang asing bahkan, hubungan yang belum pernah ada sebelumnya hingga akad nikah itu ada.

Aku pernah berpikir bahwa mencintai berarti memahami, mengalah, mengusahakan, dan bertahan. Namun, seiring waktu, aku belajar bahwa cinta juga membutuhkan kejujuran (first is self honesty). Bahwa memahami orang lain tidak seharusnya membuat kita kehilangan kemampuan untuk memahami diri sendiri. Bahwa kelembutan tidak sama dengan membiarkan semuanya, dan memaafkan tidak berarti mengabaikan apa yang perlu diperbaiki.

Ternyata, menjadi istri bukan berarti berhenti menjadi seorang manusia yang terus bertumbuh.

Ada bagian-bagian diriku yang perlu kupeluk dengan lebih lembut. Ada respons yang perlu kupahami sebelum buru-buru menghakimi diri sendiri. Ada emosi yang perlu diberi ruang, bukan untuk membenarkan setiap tindakan, melainkan agar aku bisa mengenali apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diriku. Karena shame based trauma itu nyata, aku merasakan itu di 2024 (tepat 10 tahun pernikahan berjalan), aku tulis di sini.

Aku belajar bahwa tidak semua yang terasa kuat harus segera ditindaklanjuti. Tidak semua ketakutan adalah kenyataan. Dan tidak semua yang belum selesai harus dipaksa selesai hari ini. Tidak semua hal perlu dibalas dengan kekerasan, karena kekerasan tanpa welas asih hanya akan menghasilkan kerusakan demi kerusakan.

Ada hal-hal yang membutuhkan waktu, kejujuran, tanggung jawab, dan pertolongan Allah.



Tentang luka dan pemulihan.

Aku tidak ingin menulis seolah-olah perjalanan ini selalu mudah. Ada masa ketika hal-hal yang kupercayai harus kutinjau kembali. Ada pengalaman yang mengubah caraku memandang rasa aman, kepercayaan, dan kedekatan. Ada hari-hari ketika aku harus berhadapan dengan perasaan yang tidak sederhana, bahkan ketika kehidupan tetap berjalan seperti biasa.

Sebab, luka tidak selalu menghentikan kehidupan. Kadang kita tetap memasak, mendampingi anak belajar, mengurus rumah, menyelesaikan pekerjaan, dan menjalani rutinitas, sementara di dalam diri ada sesuatu yang sedang berusaha memahami apa yang telah terjadi.

Aku mulai memahami bahwa pemulihan bukan tentang memaksa diri untuk segera baik-baik saja. Bukan pula tentang menjadi perempuan yang tidak lagi marah, tidak pernah takut, atau selalu mampu merespons segala sesuatu dengan bijaksana. Justru guru healing aku memberikan sebuah nasihat bahwa ornag yang paling sabar adalah orang yang paling memahami dan mengalirkan amarahnya dengan benar. Mampu berjalan dengan marah, dan paling mampu merasakan amarahnya (having a healthy anger is always allowing ourselves to be anger). So let myself be angry. Alhamdulillah karena untuk memahami kemarahan pun membutuhkan ilmu yang utuh. Memahami perasaan marah dengan mengizinkan diri untuk merasakan marah dengan sehat, dengan ilmu, dengan petunjuk Allah. Bukan yang merusak ke luar diri apalagi merusak diri sendiri. hadza min fadhli robbi, walau tidak mudah sama sekali.

Pemulihan, bagiku, adalah belajar memberi ruang bagi perasaan tanpa membiarkannya mengambil alih seluruh kehidupanku. Belajar membedakan antara apa yang sedang terjadi hari ini dan apa yang masih terasa dari masa lalu. Belajar menyampaikan kebutuhan tanpa harus melukai, serta membangun batasan tanpa kehilangan kelembutan.

Dan mungkin, salah satu bentuk kedewasaan yang paling sulit adalah menerima bahwa cinta saja tidak membuat kita otomatis mampu memperlakukan satu sama lain dengan baik. Kita tetap membutuhkan ilmu, kesediaan untuk mendengarkan, keberanian mengakui kesalahan, dan tanggung jawab untuk memperbaiki apa yang telah keluar dari keseimbangannya. Karena segala sesuatu yang keluar dari garis edar yang Allah tetapkan (syari'at) selalu berpotensi menimbulkan kekacauan. Terutama dalam hal rasa aman, rasa percaya dan kejujuran.

Kepercayaan tidak tumbuh hanya karena seseorang meminta untuk dipercaya. Ia membutuhkan konsistensi, kejujuran, dan waktu untuk membuktikan siapakah yang berdusta dan siapakan yang memiliki rasa takut berlebihan sehingga membuat drama.

Aku juga belajar bahwa memaafkan adalah perjalanan yang tidak selalu lurus dan samaaaaa sekali tidak mudah. Ada hari ketika hatiku terasa lebih lapang, ada hari ketika kenangan kembali mengetuk, ada trigger yang hadir rasanya berada dalam pusaran badai yang sulit untuk aku hindari. Namun, aku tidak ingin mengukur seluruh prosesku hanya dari hari-hari ketika aku merasa kuat saja, merasa baik-baik saja. Aku mengukur dan menghargai prosesku pulihku yang didukung dan ditemani oleh sahabatku, guruku dan keluarga yang sangat mencintaiku.

Aku ingin belajar berjalan dengan jujur, tanpa menyangkal apa yang kurasakan dan tanpa menyerahkan seluruh masa depanku kepada apa yang pernah menyakitiku.

Bukan karena luka itu tidak penting, melainkan karena hidupku jauh lebih luas daripada luka itu sendiri.

Tentang menjadi orang tua.

Di tengah perjalanan sebagai suami dan istri, kami juga menjadi orangtua. Kehadiran anak-anak membawa jenis cinta yang berbeda, sekaligus tanggung jawab yang tidak sederhana. Ada banyak hal yang ingin kami ajarkan kepada mereka tentang iman, adab, ilmu, dan kehidupan. Namun, semakin lama aku menjalani peran sebagai ibu, semakin kusadari bahwa anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang kami katakan. Mereka juga menyerap bagaimana kami memperlakukan diri sendiri, bagaimana kami menyikapi perbedaan, bagaimana cara kami meminta maaf, dan bagaimana kami menghadapi kesulitan.

Aku ingin anak-anakku mengenal rumah sebagai tempat yang aman untuk bertumbuh. Tempat mereka boleh belajar, melakukan kesalahan, bertanya, dan menjadi dirinya sendiri tanpa kehilangan arah. That's all about fundamental needs of human : attachment & authenticity.

Namun, aku pun juga sejatinya sedang belajar.

Belajar menjadi ibu tanpa menuntut diriku mengetahui semua jawaban. Belajar membedakan antara mendidik dan mengendalikan. Belajar bahwa ketegasan bisa berjalan bersama kasih sayang, dan bahwa meminta maaf kepada anak tidak mengurangi kewibawaan orang tua.

Ada hari-hari ketika aku belum menjadi Ummi yang kuharapkan. Ada respons yang setelahnya ingin kuperbaiki. Ada momen ketika kelelahan dan perasaanku sendiri membuatku lupa bahwa anak-anak juga sedang belajar menjadi manusia.

Di titik-titik seperti itu, aku ingin terus kembali. Memperbaiki hubungan, meminta maaf bila perlu, dan belajar merespons mereka dengan lebih sadar.

Sebab, aku tidak ingin hanya sibuk membesarkan anak-anak. Aku juga ingin bertumbuh bersama mereka.

Dan aku berharap, di tengah segala ketidaksempurnaan kami, mereka menyaksikan bahwa orang dewasa pun bisa belajar, mengakui kesalahan, dan berubah menjadi lebih baik dengan pertolongan Allah.

Tentang kami, dan makna bertumbuh bersama.

Dua belas tahun mengajarkanku bahwa bertumbuh bersama tidak selalu berarti berjalan dengan kecepatan yang sama.

Ada masa ketika salah satu dari kami mungkin lebih dahulu memahami sesuatu, sementara yang lain masih berproses. Ada perbedaan cara berpikir, kebutuhan, cara mengungkapkan perasaan, dan cara menghadapi masalah. Kami membawa pengalaman hidup masing-masing ke dalam pernikahan ini, termasuk hal-hal yang mungkin belum sepenuhnya kami pahami ketika pertama kali memulainya.

Kini, aku semakin menghargai kesediaan untuk belajar.

Kesediaan mendengarkan tanpa buru-buru membela diri. Kesediaan mencoba memahami pengalaman orang lain tanpa harus selalu menyetujuinya. Kesediaan membicarakan hal-hal yang tidak nyaman, mengakui bagian yang menjadi tanggung jawab diri sendiri, dan mencari cara agar hubungan ini menjadi tempat yang lebih baik bagi kami berdua.

Aku tidak lagi ingin memandang pernikahan sebagai proyek untuk mengubah pasangan menjadi seseorang yang sesuai dengan seluruh harapanku. Karena itu amat sangat mustahil.

Aku ingin kami sama-sama bertumbuh sebagai manusia, tanpa kehilangan tanggung jawab sebagai suami dan istri. Menjadi diri sendiri, sekaligus belajar hadir bagi satu sama lain. Memiliki ruang untuk bertumbuh, sekaligus tetap menjaga amanah yang Allah titipkan melalui ikatan ini.

Barangkali, cinta yang lebih dewasa bukan cinta yang tidak pernah mengalami kesulitan. Melainkan cinta yang bersedia menghadapi kenyataan dengan jujur, tidak menjadikan luka sebagai alasan untuk terus melukai, dan tidak menggunakan kata cinta untuk menghindari tanggung jawab.

Aku tidak tahu seluruh bentuk perjalanan yang masih menunggu kami. Namun, aku ingin terus belajar mencintai dengan cara yang lebih sadar, lebih bertanggung jawab, dan lebih dekat kepada nilai-nilai yang kami yakini.

Pada akhirnya, aku kembali kepada Allah.

Semakin jauh perjalanan ini, semakin kusadari bahwa manusia memiliki keterbatasan. Kami bisa berusaha memahami satu sama lain, tetapi tidak selalu mampu membaca seluruh isi hati. Kami bisa membuat rencana, tetapi tidak menguasai masa depan. Kami bisa berjanji untuk memperbaiki diri, tetapi tetap membutuhkan pertolongan agar mampu menepati niat baik itu.

Di sinilah imanku terus belajar menemukan tempatnya.

Aku ingin memahami sakinah bukan sekadar sebagai keadaan ketika rumah tangga selalu tenang. Aku ingin memahaminya sebagai ketenteraman yang diusahakan dengan iman, tanggung jawab, kasih sayang, dan perilaku yang baik.

Aku ingin memahami mawaddah bukan hanya sebagai rasa cinta yang menggebu, tetapi juga sebagai kasih yang diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.

Dan aku ingin memahami rahmah sebagai kelembutan yang tidak meniadakan keadilan; kasih sayang yang tidak meremehkan luka; serta kepedulian yang membuat kami lebih berhati-hati dalam memperlakukan satu sama lain.

Aku belajar bahwa tawakal bukan berarti berhenti berusaha. Menyerahkan hasil kepada Allah tidak membebaskan kami dari kewajiban untuk berikhtiar, memperbaiki kesalahan, menjaga amanah, dan menunaikan hak satu sama lain.

Allah-lah yang membolak-balikkan hati. Kepada-Nya aku memohon agar hatiku tetap terjaga, agar aku tidak kehilangan kelembutan karena pengalaman yang menyakitkan, dan agar kelembutan itu pun tidak membuatku mengabaikan kebenaran.

Aku berdoa agar Allah menumbuhkan dalam diri kami kejujuran, amanah, kebijaksanaan, dan kasih sayang yang semakin matang. Agar kami mampu menjadi pasangan yang saling menolong dalam kebaikan, serta orang tua yang terus belajar menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya.

Dua belas tahun ini bukan bukti bahwa kami telah memahami segalanya.

Justru, semakin jauh melangkah, semakin banyak hal yang kusadari masih perlu kupelajari: tentang diriku, tentang manusia, tentang cinta, tentang pengasuhan, dan tentang bagaimana menjalani kehidupan sebagai seorang hamba.

Hari ini, aku tidak ingin merayakan pernikahan ini dengan berpura-pura bahwa semuanya sempurna. Aku ingin mensyukurinya dengan hati yang lebih jujur.

Mensyukuri kehidupan yang telah Allah izinkan kami jalani. Mengakui pelajaran yang datang melalui hari-hari yang mudah maupun yang berat. Menghargai setiap ikhtiar baik, tanpa menutup mata terhadap hal-hal yang masih perlu diperbaiki.

Dan melanjutkan perjalanan ini dengan harapan yang tidak semata-mata bergantung pada kemampuan kami sendiri.

Untuk dua belas tahun yang telah berlalu, semoga Allah mengampuni kekurangan kami, menerima kebaikan yang pernah kami usahakan, dan menolong kami memperbaiki apa yang masih perlu diperbaiki.

Untuk tahun-tahun yang akan datang, aku tidak meminta agar semuanya selalu mudah.

Aku hanya ingin kami terus diberi petunjuk untuk memilih yang benar, kelapangan untuk belajar, keberanian untuk bertanggung jawab, dan kelembutan untuk tetap saling memanusiakan.

Semoga rumah ini menjadi tempat bertumbuh dalam iman. Tempat cinta tidak berhenti pada kata-kata, tetapi hadir dalam amanah dan perbuatan. Tempat anak-anak belajar tentang kasih sayang sekaligus tanggung jawab. Dan tempat kami terus diingatkan bahwa di balik seluruh peran yang kami jalani, kami tetaplah dua manusia yang membutuhkan rahmat Allah.

Dua belas tahun, dan aku masih belajar.

Belajar menjadi diriku sendiri tanpa kehilangan arah. Belajar mencintai tanpa meninggalkan diriku. Belajar menjadi istri dan ibu tanpa menganggap diriku harus selalu sempurna.

Dan di atas semuanya, belajar menjadi hamba yang semakin mengenal keterbatasannya, semakin bersungguh-sungguh dalam ikhtiarnya, dan semakin berharap kepada Rabb-nya.

Semoga Allah menjaga perjalanan ini, meluruskan niat kami, memperbaiki akhlak kami, dan menuntun keluarga kecil kami menuju kebaikan yang Dia ridhai.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Comments

Popular posts from this blog

What I Sacrificed Today: The Shame That Made Me Feel Unworthy

Agree to Disagree

Mengenal Gut Brain, Heart Brain dan Head Brain