Lelaki dan Perempuan Berumah Tangga : Dikit-Dikit Minta Cerai?


Semalam, aku menyimak obrolan di grup yang dikelola oleh Ustadz Amar Ar Risalah. Bentuknya Voice note.

Kurang lebih seperti ini. Aku coba share dalam bentuk tulisan ya. Supaya kita sama-sama belajar juga. Buat siapapun yang membaca, jodoh kita itu kita yang pilih dan Allāh yang menetapkan. Jadi, kalau ada permasalahan, sebisa mungkin diselesaikan dari dalam rumah. Jangan membawa orang lain masuk, apalagi sampai membuat drama dan kerusakan mental buat keluarga. Big nope!

Ok, let's read together!

Suami istri yang kalau ribut, sedikit-sedikit bahas cerai. Bagaimana itu?

Banyak sekali di antara kaum muslimin di Indonesia, yang belum paham kalau bertengkar sebaiknya tidak bahas cerai atau meminta cerai, selama tidak begitu darurat.

Nah, insyaa Allah saya akan membahasnya ringkas dengan voice note ya. 

(Itu ucapan Ustadz Amar)

((Next, aku ubah jawaban dari Voice notes ke teks disini))

Untuk Laki-laki 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, langsung dari negeri syam ini banyak sekali yang bertanya bagaimana kalau suami istri yang sedikit-sedikit kalau ribut itu bahasa cerai mulu, yang suami bilang, "aku menceraikan kamu aja deh", atau, "aku gak mau lagi berhubungan dengan kamu." dan lain sebagainya. Dan yang perempuan juga gitu dikit-dikit minta cerai? oke.

Pertama, bagi yang laki-laki dulu, ada beberapa peristiwa yang dalam sejarah Nabawiyah tegas sekali melarang bagi laki-laki untuk asal bicara dalam pernikahan. Contohnya adalah peristiwa yang ada dalam surat Al-Mujadalah, yaitu peristiwa Zihar. Nah, Zihar ini apa sih?

Zihar itu adalah ketika seorang laki-laki menyamakan status istri seperti ibu dalam artian gak mau lagi menyetubuhi istrinya karena keharamannya sama seperti keharaman menyetubuhi ibu kandung sendiri. Bukan dalam artian memanggil istri dengan sebutan 'umi', bukan. Bukan juga dalam artian menyamakan karakter istri atau wajah istri dengan wajah ibu itu sendiri, bukan. Tetapi betul-betul ini maksudnya adalah menyerupakan keharaman berhubungan badan dengan ibu seperti berhubungan badan dengan perempuan yang sekarang jadi istrinya itu. Nah! itu dosanya besar sekali.

Lalu yang kedua, gak boleh juga kemudian laki-laki asal bicara karena kecemburuannya menuduh istrinya sudah berzina karena itu merupakan li'an yang hukumannya juga sangat berat. Maka, yang penting adalah kita mendidik lisan kita sendiri dan mendidik ke-qowwamahan kita sendiri. Cara pendidikan yang paling baik adalah dengan berpuasa.

Dan tentu kita ingat Rasulullah SAW mengajurkan kepada laki-laki yang belum menikah atau yang sedang berusaha menahan harwa nafsunya karena belum bisa menikah untuk berpuasa. Manfaatnya ternyata nanti baru didapatkan salah satunya ketika sudah menikah. 

Orang yang gemar berpuasa biasanya akan lebih mudah menahan emosinya. Dan juga dengan pengaturan pola makan. Orang yang hidupnya tuh sangat teratur, misalnya nih Nabi SAW bangun jam segitu, tidur jam segitu, makan jam berapa, gak terlalu banyak makan, gak juga terlalu sedikit, emosinya tuh akan lebih terjaga.

Nah, kebanyakan orang-orang di Indonesia atau sebagian orang, saya tidak mengatakan semuanya, kurang bisa mengatur emosinya karena mungkin juga makanannya terlalu banyak, terlalu berat sehingga dia tidak waspada atau tidak mawas diri ketika sedang marah kepada istrinya. Dan ingat, bercanda, bercerai, tidak sengaja mengucapkan cerai atau karena terbawa dengan kemarahan, sehingga mengucapkan cerai itu dihukumi perceraiannya jatuh. Nah, dalam hal ini, kemudian ada dua jenis ucapan perceraian. 

Pertama, ada talak sharih. Talak sharih itu adalah ucapan yang cukup tegas. 
"Sudah, aku ceraikan saja kamu."
Atau
"kamu kembali saja ke orang tuamu untuk aku ceraikan."

Jadi : ada kata-kata cerai di sana. Ya, tegas. 

Yang kedua, ada talak kinayah. Talak kinayah itu maksudnya talak yang dengan kata-kata kiasan yang harus ditanya dulu maksudnya apa.
"Sudah, kamu pulang aja sana. Aku enggak mau lagi hidup sama kamu."
Kalimat itu maksudnya, harus ditanya dulu oleh istrinya. Istri kudu nanya, "Ini maksudnya apa? Aku ini kamu ceraikan?"

Atau bagaimana kalau suaminya menjawab, "ya kamu aku ceraikan.", maka, jatuh (talak).

Begitu juga dengan talak muallaq yang merupakan bagian dari talak kinayah. Talak muallaq itu maksudnya talak yang dengan syarat. "Kalau kamu sekarang minta cerai kepada aku, aku akan mau mengizinkan."
Nah istrinya bilang, "yaudah", maka jatuh cerainya itu disitu. 

Dan, sebagaimana pernikahan juga sah dilakukan dengan telepon, maka cerai juga sah dilakukan dengan telepon. Pernikahan yang sah juga dilakukan dengan teks atau dengan wakil, cerai juga sah dilakukan dengan wakil atau juga dilakukan dengan teks. Tapi tentu saja wakilnya haruslah seorang laki-laki yang adil, seorang laki-laki yang memang tahu permasalahan dan tahu agama. 

Contoh, Ada salah seorang namanya si A. Si A ini mencintai perempuan B yang ada di negara lain. Nah, dia kemudian mengirimkan wakilnya, contohnya kakaknya, untuk menyampaikan pesan bahwa si A ingin menikah dengan si B. Kalau wali si B menyatakan ya mau, maka sah lah pernikahan tersebut.

Karena Rasulullah SAW pernah melakukan hal serupa ketika menikahi Ummuh Habibah dan menjadikan sahabat beliau, namanya Raja Najasyi, sebagai wakil. 

Nah begitu juga dengan cerai. Andai kata ada seorang suami chat kepada istrinya, "sudah, kita cerai saja.", maka perceraian itu jatuh, meskipun istrinya tidak menjawab. Atau begitu juga ketika suami dititipin pesan kepada kakak si perempuan, kakak dari istrinya, tapi kakaknya harus laki-laki. "Sudah aku ceraikan saja adikmu itu.", Maka itu pun jatuh. 

Teman-teman sekalian, di bagian pertama ini saya tekankan sekali kepada pihak laki-laki untuk tidak mudah mengucapkan kata cerai setelah diucapkan kata cerai itu, perasaan perempuan tidak akan sama lagi kita perhatikan baik-baik.

Untuk Wanita/Istri

Yang kedua, ini saya tunjukkan kepada para perempuan, meskipun untuk diketahui ucapan permintaan cerai dari perempuan tidak langsung sah, artinya tidak langsung jatuh talak, akan tetapi seyogianya perempuan tidak mudah meminta cerai kepada suaminya, karena itu sangat melukai perasaan suami.

Saya tidak mengatakan dalam konteks perbedaan gender, 'ah suami selalu benar atau istri selalu salah'. Itu paradigma yang terliru ketika kita ingin belajar soal syariat Islam. Ingat, kita harus mawas diri, kita harus sadar bahwa laki-laki bisa salah, perempuan pun bisa salah. 

Muslim dan muslimah punya kedudukan yang sama di hadapan Allāh subhanahu wata'ala. Ketika laki-laki bisa selingkuh, perempuan pun bisa selingkuh. Karena di balik laki-laki yang selingkuh, ada perempuan yang menjadi selingkuhannya. Ketika laki-laki bisa tidak menafkahi sehingga dosa besar, perempuan juga bisa mendustakan nafkah suami sehingga dia juga kena dosa besar.

Nah, maka teman-teman sekalian di sini, seorang perempuan yang kalau sedang marah, sedang sedih dan lain sebagainya sedikit-sedikit meminta cerai, ini tuh sungguhnya perempuan yang kurang baik. Dia harus latihan menahan ucapannya, terkecuali memang ada sebab-sebab seperti : Suaminya adalah pelaku KDRT, suka memukul, suka menampar, dan lain sebagainya. Suaminya adalah seorang yang sangat melarat, dan melaratnya itu bukan karena ketetapan Allah saja, akan tetapi karena dia malas, terjerat riba, yang ribanya itu sangat-sangat parah, atau kemudian ada sesuatu yang lain, sehingga dia sebetulnya bisa berusaha, tapi dia memilih tidak berusaha. Nah itu dipersilahkan bagi orang perempuan untuk meminta cerai.

Akan tetapi, kemudian tahan emosi baik-baik. Sebelum meminta cerai, sebelum akhirnya kemudian sedikit-sedikit mengucapkan kata cerai. Nah, sebaiknya kita latihan berpuasa, kita bergabung dengan orang-orang atau berkumpul dengan orang-orang yang memang juga suka mengucapkan kebaikan saja.

Saya lihat sekarang kebanyakan konten-konten di TikTok atau Facebook Pro itu kebanyakan membesar-besarkan urusan rumah tangga yang sesungguhnya itu perkara sederhana.

Saya lihat misalnya ada konten, "Uang 20 ribu dikasih suami sehari dapat apa?", sejenis jenis itu nanti seakan-akan mengeluhkan suami. Atau konten suami baru pulang kerja tiba-tiba apa, rebahan, atau perempuan dianggap apa dan lain-lain sebagainya. Nah yang ya sebenarnya itu bukanlah langkah konten yang hanya untuk membesar-besarkan followers aja atau viewers aja.

Nah, yang harus dilakukan andai kata misalnya kita lagi marah dan betul-betul penyebab perceraian itu ada di depan kita. Misalkan suami selingkuh sampai berzina secara hakiki, terjadi hubungan badan. Atau suami melakukan dosa besar, semisal melakukan riba yang ribanya itu sampai miliaran. Atau kemudian suami misalnya melakukan tindakan kriminalitas seperti minum khomer, mengedarkan narkoba, membunuh, dan lain-lain sebagainya. Maka seorang istri diperbolehkan meminta perceraian. Meskipun suaminya pada saat itu ingin mempertahankan, tapi Islam memberikan jalan dengan cara khulu'. Tapi lebih baik kalau si perempuan ini bersabar dan kesabaran itu tidak bisa didapatkan kecuali dia memahami ilmu agama.

Pasangan suami istri yang biasanya kalau bertengkar selalu membahas perceraian, umumnya terjadi di lingkungan keluarga yang jauh dari agama. Tetapi nanti ada yang tanya, pasti itu, "teman-teman saya paham agama tapi tetap aja kalau berantem, mengucapkan kata cerai dan lain sebagainya"

Ya, ingat paham agama bukan berarti dia menjadikan agamanya itu sebagai kebiasaan hidup ya. Kan, ada orang yang paham agama, asatidz dan lain sebagainya di satu bidang, tapi mungkin ya kita jumpai dia masih melakukan maksiat dan seterusnya dan seterusnya. Nah, maka teman-teman sekalian banyak-banyaklah meminta kepada Allah dan ingatlah bahwa pasangan kita tidak sempurna. Assalamualaikum.

---

Masya Allah ya, inilah ibadah terpanjang, berliku, membutuhkan ilmu. Harus belajar terus.

Rekaman VN sampai sana ya teman-teman.

Bagiku, menikah itu, belajar berbagi, gak boleh pelit, gak boleh egois karena niatnya ibadah, dan memang dalam rangka mengenal diri seumur hidup melalui pasangan. Ujian yang hadir sebenarnya ada dalam rangka menguatkan tauhid kita. Seberapa kuat kita meyakini Allāh lah Dzat yang Paling Maha Sayang dan Maha Melindungi. Nah, saat ujian hadir, sebisa mungkin jangan pernah kita menganggap akan hancur begitu saja itu mahligai rumah tangga. Namun jika memang sudah tidak bisa dipertahankan, mari kita urus dengan cara yang baik. Kenapa?

Well, teman-teman, sejak kecil aku menyaksikan ortuku gak akur. Panjang ceritanya, sampai pada akhirnya, aku memiliki kesimpulan panjang soal kehidupan. Kenapa dari kecil, aku melihat proses itu kurang Ahsan, dst. 

Nah, soal inner child itu, setiap Sabtu (mulai aktif lagi awal September 2025 ini), aku share suara tema inner child ke podcast. Podcast di Spotify ya : Suara Inner Child. Isinya bukan membongkar aib ya, karena why? ya aku udah kenyang liat orang gitu, aku benci banget sama orang yang bongkar aib hanya dalam rangka menyudutkan orang lain, tidak dalam rangka membuat keputusan adil pada pengadilan (hakim yang adil). Menjelekkan orang lain agar dirinya terlihat sempurna keren dan maha benar. So, please. Mari, kita latih diri kita. Mengenali diri, kenali luka, emosi, semangat memulihkan diri. Agar apa? 

Agar Allāh ridho, Allāh sayang kita, dan mudah-mudahan jadi wasilah kebaikan: memutus lingkaran setan, setan rumah tangga (setan manusia maupun setan jin dasim).

Wallahu 'alam.

Comments

Popular posts from this blog

Mukaddimah Kurikulum Pendidikan Anak dalam Keluarga Muslim sesuai Tahapan Usia bersama Ustadz Herfi Ghulam Faizi

Mendidik Anak Usia 7-9 Tahun

Mendidik Anak Usia 1-3 Tahun