30 Hari Bercerita di Instagram 30HBC2026

Mengawali 2026, aku mencoba untuk mulai bangkit untuk menulis kembali setelah sekian lama, sejak 2024 lalu aku memutuskan untuk berhenti menulis, mencoba healing my trauma dan seterusnya.

Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmush sholihaat, Allah Maha Baik, sebaik itu padaku. Mengawali bulan Rajab atau Januari 2026 dengan hunian baru setelah berjibaku 3 bulan lebih merenovasinya sana-sini agar nyaman untuk ditempati dan ibadah setiap hari.




Per 1 Januari 2026 aku mencoba membangkitkan otot menulis rutinku dengan mengikuti 30 hari bercerita yang memang hanya ada di bulan Januari setiap tahunnya. 

Namun, setelah aku renungi di akhir Januari ini, aku putuskan untuk mengarsip semua postingan yang sudah aku upload hingga 27 Januari. Alhamdulillah goal menulis rutinku sudah aku cukupkan sepanjang kurang lebih hampir 4 pekan itu saja. 

Why diarsipkan?


Tentu saja atas pertimbangan dan istikharah serta berbagai saran dari berbagai guru dan ahli ilmu, bahwa sebaiknya aku membatasi diri untuk tidak mempublikasikan daily life aku di media sosial seperti dulu lagi. Bukan karena kejadian traumatis 2024 silam, sehingga mudah bagi orang untuk menghakimi dan mencaci diri ini, bukan itu. Karena bagiku, cukuplah Allah yang Maha Baik menyaksikan segala hal yang telah terjadi dan mengizinkan segala hal terjadi agar menjadi pengingat dan perbaikan diri. Namun lebih dari itu, aku ingin lebih banyak menulis yang panjang lagi. Dan itu tidak akan terjadi jika aku menulis di platform media sosial :)

Latihan di 30 hari bercerita bagiku sudah menjadi pemantik yang luar biasa buatku rutin kembali menulis. Karena aku sadar, tidak setiap hari aku bisa membuka laptop atau menulis di gadget. Selama ini, aku jauh lebih rutin menulis di atas kertas. Kadang aku menulis untuk merilis emosi, mencari akar emosi bahkan meluapkan emosi melalui kertas. Namun, dengan kembali menulis yang rutin di media sosial, aku mulai berpikir ulang. Who is your resource? Who is your true resource?

Mengembalikan intentional kedalam diri itu hal paling sulit, tanpa bimbingan dan taufiq dari Allah, mustahil untuk senantiasa look-in kedalam hati, kedalam jiwa sendiri. Maka dari itu, aku putuskan untuk membatasi feeds instagram aku, dan mudah-mudahan lebih banyak menulis panjang melalui platform lebih aman dan nyaman seperti blog ataupun channel. Termasuk buku-buku yang sudah banyak judul aku produksi namun belum siap aku launching hingga kini.

Semoga setiap ucapan, perkataan, tulisan yang kita torehkan setiap hari menjadi amal kebaikan, kebijaksanaan yang memberatkan pahala kita kelak di yaumil akhir. Amiin.

Comments

Popular posts from this blog

Mukaddimah Kurikulum Pendidikan Anak dalam Keluarga Muslim sesuai Tahapan Usia bersama Ustadz Herfi Ghulam Faizi

Mendidik Anak Usia 7-9 Tahun

Mendidik Anak Usia 1-3 Tahun