Recap 2025


Tahun 2025, tahun dimana aku pindah rumah tapi rumah yang sama sekali tidak ideal. Yasudah, gak masalah, terpenting adalah mentalku enggak rusak dan jiwaku terjaga dari memandang manusia-manusia yang telah menyakiti dan merusak keluarga.

Renungan setahun ini adalah soal pertemanan. Ternyata enggak semua teman itu bisa jujur, bisa banget ya ternyata manis di depan, menusuk di belakang. Dan ada juga manusia yang menjadi pelaku tapi mengaku menjadi korban dan ternyata manipulatif gas lighting parah. Itulah mengapa setahun ini aku tutup tahun ini dengan banyak memulihkan diri, belajar dan terus selektif memilih lingkungan.

Soal pemaafan. Awalnya aku mencoba menuntut agar orang yang melakukan perundungan dan mematikan kehidupanku itu untuk meminta maaf. Mereka memang tidak pernah terus terang di depan, mereka menusuknya dari belakang. Membuat aku hidup unworthy, tidak melibatkanku dalam soal sosial, bahkan menatapku dengan tatapan yang tidak nyaman sama sekali - aku bertanya-tanya apa salahku? Kenapa mereka kompak sekali bersikap seperti itu padaku? Inikah yang dirasakan oleh orang yang dibully non verbal? Aku bisa gila kalau terus mempertahankan kehidupanku di lingkungan manusia yang gemar menghakimi sesama- sampai aku memutuskan tahun lalu berniqob. Karena aku menangis hampir setiap hari. Kok ada ya manusia seperti mereka. Buruk sekali cara berkomunikasinya, tidak punya perasaan dan sebegitu kejamnya menusuk di berbagai sisi.

Aku ingin meminta keadilan dengan duduk penuh kejernihan kembali, namun ditolak. Mentah. Sangat mentah. Bahkan gas lighting terus menerus serta merasa tidak terjadi apa-apa, tidak merasa bersalah bahkan meminta maaf saat bertemu pun tidak dilakukan. Oke, pengakuan itu pentingkah?

Pengakuan yang tulus kalau mereka reaktif dan emosional sehingga membuatku terluka mungkin terasa memvalidasi.
Tapi sayangnya, orang yang sudah busuk mulutnya, yang punya mental merendahkan orang lain… sering kali tidak akan memberi maaf yang tulus. Kalaupun mereka minta maaf, sering hanya formalitas atau memindahkan salah. Sudah aku baca sejak awal polanya ternyata mereka benar-benar selaras. Suka cuci tangan.

Dan kalau aku menggantungkan ketenangan pada maaf mereka, ya jelas akan terus tersandera oleh dua orang yang bahkan tidak layak jadi parameter harga diriku itu.

So?

Let them.

Bagi yang belum paham, mungkin bisa baca ini tulisan Prof Riza, salah satu guruku 


Dan aku memilih untuk tidak membalas.


Cukuplah Allāh yang Maha Menyaksikan.

Tahun 2025 adalah sebelas tahun aku mengarungi kehidupan rumah tangga. Allāh karunia dua orang anak yang dari mereka aku banyak belajar dan memproses pulih.

Sudah Desember saja, sudah saatnya aku menutup album luka yang selama ini aku tulis, baik disini, di meja terapis, meja psikolog dan para ahli maupun dalam senyap dan malam yang sunyi.

Tahun ini aku tutup dengan melepaskan semua beban yang membelenggu. Beban jiwa yang termanifestasi di kehidupanku. Betapa Allāh sebaik itu membuka topeng mereka satu per satu. Karena ternyata nggak semua manusia bisa berlaku, bertutur dan bersikap jujur. Dan gak semua manusia yang usianya besar itu, memiliki kemampuan untuk memandang persoalan dengan bijak. Mahal sekali ya harga pemulihan ini. Tapi, Allah Maha Kaya, bukan?

Hadza min Fadhli Robbiii.

Comments

Popular posts from this blog

Mukaddimah Kurikulum Pendidikan Anak dalam Keluarga Muslim sesuai Tahapan Usia bersama Ustadz Herfi Ghulam Faizi

Mendidik Anak Usia 7-9 Tahun

Mendidik Anak Usia 1-3 Tahun